Idea

Cerdas Kreatif dan Mandiri dengan Menulis

Hai-hai, ini adalah tulisan saya saat kelas XI SMA. Pertama kali saya menulis dan menang sih pas ikutan kompetisi, cukup cerdas. Redaksinya masih asli ya jadi mohon maaf kalau ada yang aneh. Semoga gagasannya tetep cerdas ya walau tata bahasanya masih kurang cerdas. Yaudah, yuk cerdas, kreatif dan mandiri dengan menulis!

 

Menulis adalah cara berbicara tidak langsung untuk mengungkapkan gagasan, perasaan, pikiran, dan kemauan kepada orang lain.(wisnu,ardi: 1) Menulis serta membaca merupakan kegiatan komunikasi yang diperlukan masyarakat yang ingin maju. Kemajuan suatu bangsa sering kali diukur dengan kemampuan menulis dan membaca. Hal ini ditandai degan banyaknya buku baru yang wajib dibaca generasi muda per tahun serta banyaknya judul buku baru yang diterbitkan setiap tahun. Semakin banyak membaca semakin cerdas.

Sebagai contoh adalah Negara Jepang. Jepang adalah negara dengan masyarakat cerdas yang dahaga akan bacaan. Mereka selalu melahap habis buku terbitan baru. Tidak peduli kertas apa yang digunakan. Tidak peduli dengan majalah atau buku itu bagus ataupun jelek. Bahkan, lebih jauh lagi dikatakan dalam buku ‘Introduction to Contemporary Japanese Literature’ bahwa masyarakat jepang haus akan bacaan serta rela mengantri untuk membeli ekslempar eceran karya lengkap filsafat Nishida.

Selain itu kegiatan tulis menulis juga memiliki pengaruh besar terhadap masyarakat Cina. Bagaimana tidak? Seorang filsafat besar dari Cina berhasil menuangkan sebuah gagasan hidup, menuangkan sebuah pegangan hidup melalui ajarannya Kong Fu Tse yang dituliskan dalam kitab Tao Tse. Perlu anda ketahui, ajaran tersebut tidak bias dipandang sebelah mata karena ajaran tersebut berhasil mempengaruhi kehidupan Cina selama hamper 24 abad. Bahkan sampai sekarang, ajaran Kong Fu Tse yang ditulis dan digagas oleh Kong Fu Tse memiliki pengaruh terhadap tata cara berpikir dan sikap hidup sebagiab rakyat Cina. (Badrika:128)

Indonesia pada masa lalu yang penuh dengan rezimentasi, pembentukan mental serdadu penyeragaman bukan hanya melainkan juga pemikiran. Kegiatan diskusi, menulis, membaca buku dilarang sehingga potensi kreativitas berkurang atau bahkan tak bias muncul terutama kalangan pemuda.

Sebagai bukti, pada tanggal 14 oktober 1981, empat mahasiswa UI dipecat rector mereka. Dengan alasan mereka mengundang Pramoedya sebagai pembicara di sebuah diskusi kampus, 24 september 1981. Lantas,  tujuh tahun kemudian tiga pemuda Yogyakarta ditangkap, ditahan, dan disiksa sebelum diadili. Dengan tuduhan memiliki, membaca, mendiskusikan novel karya Pramoedya.

Dan bagaimana dengan Indonesia yang sekarang?

 

Cerdas dengan Menulis

Kecerdasan adalah suatu anugerah tertinggi yang diberikan Tuhan kepada manusia. Namun, anugerah itu tidak akan jadi dalam sekali. Melainkan berkali-kali dengan latihan dan terus diasah agar terus berkembang.

Dalam buku ‘Menjadi Genius dengan Menulis’, Mark Levy (2005) telah berhasil membuktikan bahwa kecerdasan itu membutuhkan pelatihan dan asahan untuk terus berkembang. Solusinya adalah dengan menulis.

Seringkali guru mengatakan bahwa menulis adalah berpikir. Berpikir untuk menuangkan ide atau gagasannya dalam sebuah tulisan. Berpikir untuk melibatkan emosi dalam tulisannya. Berpikir untuk untuk membuat dan memperindah tulisannya. Berpikir untuk menarik pembaca dengan tulisannya. Serta berpikir lainnya yang panjang apabila saya deskripsikan.

Pikiran atau otak akan menjadi hidup dengan menulis. Sebab, menulis melibatkan potensi psikis dan potensi pancaindera manusia. Tentunya, semua orang yang menulis menginginkan tulisannya menjadi terasa hidup bagi para pembaca. Hal ini akan melibatkan kesinambungan antara otak kanan dan otak kiri. Otak kanan mengendalikan emosi serta imajinasi dalam menulis,serta mengendalikan perasaan dalam menuangkan sebuah gagasan. Sedangkan otak kiri mengendalikan tata bahasa penyuntingan, penulisan, tata letak, tata bahasa, penulisan kembali, tanda baca serta penelitian dalam sebuah tulisan.

Selain itu, menulis melibatkan kesadaran serta penghayatan. Tidak mungkin seorang menulis dalam keadaan tidur ataupun melamun. Melainkan membutuhkan keadaan sadar yang didukung sistematika teratur. Dan kegiatan tulis menulis selalu diawali dengan memusatkan pikiran terlebih dahulu hingga menggerakkan tangannya. Dengan kata lain membutuhkan konsentrasi tinggi. Melatih kecerdasan dalam keseimbangan penggunaan antara otak kanan dan otak kiri. Melatih kecerdasan menumbuhkan ide kreatif, gagasan unik dan berbeda.

Tentunya anda mengenal Negeri Sakura sebagai negara yang syarat akan masyarakat yang cerdas. Bukan tidak lain, penyebabnya ialah membaca. Dan pernahkah anda berpikir sesungguhnya kecerdasan mereka berawal dari menulis?

Ya!! Saya katakan menulis. Mengapa tidak? Let’s open our mind. Masyarakat jepang cerdas karena dahaga akan suatu bacaan. Dan adanya sebuah bacaan tidak lain karena ada yang menulis. Begitu pula dengan sebaliknya. Dalam hal ini menulis dan membaca merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ini dibuktikan oleh bangsa Jepang dengan banyak menerjemahkan dan menuliskan kembali buku-buku ilmu pengetahuan ke dalam tulisan jepang. Masyarakat Jepang yang pada dasarnya gemar membaca akan lebih melesat maju sejajar dengan orang-orang barat. Hasilnya, sekarang kita bisa lihat betapa majunya bangsa Jepang. Bahkan melebihi bangsa barat.

Kemudian Malaysia yang dekat dengan negara kita. Awalnya, Malaysia meminta negara kita untuk mengirimkan guru ke negri Jiran tersebut. Waktu berlalu, Malaysia memberlakukan  budaya membaca dan menulis untuk menyongsong generasi yang siap menghadapi persaingan global. Hasilnya, bisa kita lihat sekarang.

Dengan kata lain, kegiatan menulis merupakan sebuah kegiatan mulia. Karena menulis adalah kegiatan mencerdaskan bangsa secara tidak langsung melalui karyanya.

Sebenarnya bangsa kita mampu seperti bangsa Jepang. Indonesia sudah mulai menanamkan budaya membaca. Apa salahnya jika bangsa kita mengaplikasikan budaya menulis berkualitas.

 

Menjadi Kreatif dengan Menulis

Selain menimbulkan dampak mencerdaskan, kegiatan tulis menulis juga menimbulkan efek kreatif. Kegiatan menulis sangat erat kaitannya dengan kemampuan berpikir seseorang. Karena apapun masalah yang hendak dituangkan dalam tulisan harus dipikirirkan terlebih dahulu. Pikiran atau otak manusia menyimpan begitu banyak data, baik data yang yang sudah pernah digunakan maupun data yang akan digunakan, semua bercampur menjadi satu dalam pikiran kita. Karena data yang disimpan begitu banyaknya, maka diperlukan sebuah keahlian dan kecermatan dalam mengatur dan, mengurutkan serta memilih data yang akan dikeluarkan.

Data yang dimaksud bisa berupa kata-kata yang akan disusun menjadi sebuah kalimat atau kalimat yang hendak disusun dan dirangkai secara tepat dalam rangka pembuatan sebuah karya tulis. Kegiatan seperti itu membutuhkan sebuah konsentrasi yang tinggi serta pemikiran yang jernih. Selain dari pada itu, kecepatan berpikir juga diperlukan agar apa yang yang sudah dipirkan untuk dibuat sebuah tulisan tidak keburu lupa atau bahkan hilang begitu saja. Kemampuan dan kecepatan inilah yang disebut sebagai berpikir kreatif.

Pada hakikatnya setiap manusia memiliki kemampuan yang sama untuk bertindak kreatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Devito, bahwa kreatifitas merupakan suatu kemampuan yang dimiliki setiap orang dengan tingkat kreatif yang berbeda.

Bahkan saat seorang manusia lahir, sel-sel saraf otaknya diperkirakan berjumlah 100 miliar, berkonsentrasi disebuah jaringan yang tebalnya 2 milimeter. Dan otak harus mengolah 3 miliar stimulus setiap deik agar seorang manusia tetap sadar.

Telah terbukti bahwa individu yang ideal dalam cara berpikirnya menggunakan 4% saja dari kemampuan akalnya, jadi 96% dari kemampuan akal menunggu untuk dioperasikan, digunakan, dikembangkan, dan dimajukan agar berpikir kreatif

Total seluruh sel saraf yang berjumlah besar yang ada pada manusia mempresentasikan 2% saja dari berat tubuh dan memerlukan lebih dari 205 oksigen yang masuk dalam tubuh. Manusia kehilangan lebih dari 50.000 sel saraf setiap hari, atau sama dengan sekitar 18 juta per tahun. Yang paling menarik dari angka-angka tersebut ialah kehilangan itu sama sekali tidak berarti. Tahukah mengapa demikian? Penggunaan akal itulah sebabnya.

Faktanya otak manusia sangatlah fleksibel, mampu beradaptasi sesuai dengan kondisi yang disertai dengan peningkatan hubungan antara sel-sel yang ada sehingga tidak tercatat kehilangan akal sedikitpun dari kemampuan akal. Kehilangan itu tidaklah signifikan karena para ilmuwan yakin bahwa manusia sama sekali tidak membutuhkan 100 miliar sel saraf. ( yusuf: 65)

Masih tersisa sebuah pertanyaan. Apa solusinya? Bagaimana mungkin kita mampu mempergunakan akal secara lebih baik dan efektif? Jawabannya adalah pergunakan akal maka kita akan kreatif. Salah satunya dengan menulis. Menulis akan membuat kita berpikir dan hal itu akan menimbulkan kreativitas dalam diri anda.

Kreativitas manusia melahirkan pencipta besar yang mewarnai sejarah kehidupan umat manusia dengan karya-karya spektakulernya.

Seperti Bill Gate  si raja microsoft, JK Rolling dengan novel Harry Poter-nya, Ary Ginanjar dengan  ESQ (Emotional & Spiritual Question) , penulis Pramudia Anatatur dengan karya-karyanya yang tak lekang oleh waktu. Apa yang mereka ciptakan adalah karya  orisinil yang luar biasa dan bermakna, sehingga orang terkesan dan memburu karyanya.

Perlu digaris-bawahi tebal-tebal, sebagai salah satu inventori otak kanan yang paling berharga, kreativitas bukanlah semata-mata soal menguras ide, tetapi juga soal berburu solusi, membalikkan cara pandang, menggebrak perubahan, atau aktivitas sejenis.

Apakah anda tertarik menjadi orang kreatif?

Mulailah dengan menulis. Menulis membutuhkan sebuah kreativitas dan karena terbiasa menulis maka akan teriasa berpikir kreatif.

Tentunya semua orang yang menulis menginginkan karnyanya menarik untuk dibaca. Dan karena keinginan inilah yang mengakibatkan seseorang untuk berpikir kreatif. Telah saya singgung pada awal bahwa seseorang hanya menggunakan 4% dari kemampuan otaknya. Dan solusinya adalah dengan nerpikir kreatif dengan menulis.

Orang yang biasa menulis dapat dipastikan bahwa orang tersebut memiliki kemampuan berpikir kreatif. Kemampuan itu tidak langsung ada,namun kemampuan itu perlu dilatih dan dikembangkan. Beberapa kali saya telah mengatakan solusinya adalah menulis.

Berapa orang kreatif yang ada dinegeri kita?

Mungkin hanya sebagian saja. Dan berapa generasi muda dinegeri kita? Jawabannya adalah banyak, bahkan sangat banyak. Lalu, mengapa kita tidak melatih generasi muda untuk berkreatif yang salah satu cara untuk memunculkanya ialah menulis. Mengapa kita tidak mencobanya?

 

Mandiri dengan Menulis

Banyak orang yang menetahui bahwa menulis dapat membawa sebuah kehidupan yang mandiri. Namun, sayangnya orang-orang mengartikan nilai mandiri dalam menulis dalam bentuk royalty. Tentunya hal ini juga tidak dapat disalahkan. Yang ingin saya tegaskan ialah menulis memiliki nilai mandiri yang nilainya tidak dapat diukur dengan royalty yang bersifat sementara. Karena nilai mandiri dalam menulis lebih dari sekadar royalty.

Namun nilai inilah yang ingin saya sampaikan kepada pembaca.

Ketika Indonesia berada pada masa pra kemerdekaan, budaya menulis telah dibangun oleh pemuda dan pendiri bangsa Indonesia. Mulai dari H.Agus Salim, Bung Karno hingga Bung Hatta. Setiap organisasi memiliki media cetak sendiri dan setiap anggota wajib menuls dalam media tersebut. Budaya ini telah mengantarkan Indonesia pada pintu kemerdekaan.

Naskah proklamasi yang ditulis oleh Sukarni dan ditanda tangani oleh Ir. Soekarno dan Muh.Hatta merupakan contoh kecil yang berdampak besar pada bangsa ini. Seandainya Indonesia tidak memilki budaya menulis pada masa pra kemerdekaan apakah Indonesia akan bisa menjadi sebuah negara yang terlepas dari penjajah? Lalu, bagaimana Indonesia bisa membuktikan pada dunia Internasional ketika bangsa kita tidak memiliki budaya menulis? Beruntung kita merupakan bangsa yang memiliki budaya menulis.

Uraian di atas menunjukkan bahwa menulis merupakan bentuk perjuangan mengantarkan Indonesia untuk terlepas dari genggaman penjajah dan ketergantungan terhadap para colonial.

Menulis telah mengantarkan Indonesia pada sebuah kehidupan yang dicita-citakan bangsa ini, yakni terlepas dari penjajah dan menjadi negara merdeka, menjadi negara yang memiliki kehidupan tanpa ketergantunga dengan penjajah. Sebuah kehidupan yang mandiri untuk menuju cita-cita bangsa ini kedepan.

Jadi, selain kegiatan membaca, kegiatan menulis juga memiliki andil yang besar dalam kehidupan. Dengan menulis dapat menumbuhkan kreativitas generasi muda yang memicu pada kemajuan bangsa.

Lebih jauh lagi, menulis dapat memicu kecerdasan. Kecerdasan intelektual karena menulis membutuhkan strukturisasi dan bahasa serta bahan yang merangsang otak kiri. Kecerdasan emosi karena menulis membutuhkan sebuah imajinasi dan perasaan dalam menuangkan gagasan. Dan yang terpenting adalah mencerdaskan bangsa serta perdampak pada peradaban masa.

Terakhir menulis mengantarkan bangsa kita untuk menjadi bangsa yang mandiri.

Lewat artikel ini, saya berharap kegiatan menulis yang dulu pernah mendongkrak semangat jiwa generasi muda dapat tumbuh dan lebih berkembang pada masa kini untuk kemajuan bangsa dan peradapan masa. Serta budaya menulis yang dulu pernah dimiliki bangsa ini lebih berkembang dan sejalan seiring dengan budaya membaca.

 

DAFTAR PUSTAKA

Wardhana,wisnu arya & Ardianto, ardi suryo,2007. Menyimpan Rahasia Jadi Penulis. Yogyakarta : Pustaka Belajar.

Al uqshari,yusuf, 2005. Melejit dengan Kreatif. Jakarta : Gema Insani.

Laksan ,A.S ,2006 . Creativ writing. Jakarta : Media Kita.

Badrika, I wayan,2006. Sejarah kelas X. Jakarta : Erlangga.

 

Tags : ideas

1 Comment

Leave a Response