Idea

Millennial dan Minimalis, Gaya Hidup itu Pilihan

Millennial dan Minimalis. Gimana ya jadinya kalau dua hal tersebut bertemu? Bahas yuk!

Oiya, tulisan ini hanyalah sebuah hasil dari renungan singkat tentang kehidupan (duh kok kayaknya berat ya). Fenomena yang terlihat nyata tapi mungkin ga disadari sepenuhnya, yaap betul sekali, semua ini tentang gaya hidup dan pilihan. Sebelum lanjut, catet dulu ya, tulisan ini merupakan pembelajaran yang bersifat pribadi sehingga tidak ada usur menggurui atau menghakimi pihak atau golongan. Cheers and let start!.

Jujur, sesungguhnya walaupun masuk ke golongan millennial, saya belum tahu secara pasti definisi dari millenial jadi buat yang belum tahu juga ini penjelasannya ya.

Millenial berasal dari millennials yang diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika, William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya. Dua pakar tadi tidak menjelaskan secara gamblang tentang millenial, mereka hanya mendefinisikan millenial sebagai golongan orang / generasi yang lahir dari tahun 1990an akhir hingga saat ini dan belum tahu sampai kapan. Oiya, generasi millenial disebut juga generasi Y, mungkin nanti anak cucu kita namanya generasi Z, ya kali aja wkwk.

Generasi sangat erat kaitannya dengan tren atau pola konsumsinya. Hal itu yang akan menjadi pokok bahasan pada artikel ini. Tahu kah kalian, awal tahun 2016 Ericsson pernah melakukan penelitian terhadap tren komsumsi dan mengeluarkan sebuah laporan “10 Tren Consumer Lab”. Dalam laporan tersebut Ericsson mencatat, produk teknologi akan mengikuti gaya hidup masyarakat millennial. Sebab, pergeseran perilaku turut berubah beriringan dengan teknologi. Nah kira-kira tren tersebut dapat diilustrasikan dengan gambar di bawah ini.

MILLENNIAL DAN MINIMALIS

Sekarang jelas ya, kalau kita berbicara tentang gaya hidup maka generasi millenial akan sangat di-drive  oleh teknologi (social media). Artinya, media sosial akan menjadi sarana yang sangat efektif bagi produsen untuk memasarkan produknya. Hal tersebut dikarenakan kebutuhan generasi millennial terhadap teknologi sudah tidak terbendung lagi. Fakta tersebut didukung juga di laporan ericsson yang kita bahas sebelumnya. Ericsson mencatat, remaja berusia 16 – 19 tahun yang menonton video melalui Youtube meningkat dari 7% menjadi 20% dalam jangka waktu 4 tahun (2011-2015). Gampangnya gini sih, coba tanya pada diri kalian sendiri, bisa tidak hidup tanpa sosial media dan media streaming dalam seminggu?

Setelah sama-sama mengenal millenial dan gaya hidupnya, sekarang saatnya kita benturkan dengan sebuah istilah yang menarik, minimalis. Saya tertarik membahas millennial dan minimalis karena menghadapi fakta bahwa saya generasi millennial namun tiba-tiba dipertemukan dengan gagasan minimalis. Secara alami generasi millenial jelas tidak minimalis. Kenapa? Informasi yang mengalir di sosial media secara langsung (melalui iklan) atau tidak langsung (pamer selebgram) akan menimbulkan pola komsumtif. Aliran informasi ini tidak mengenal istirahat, jadi jelas bagaimana pola yang terbentuk. Sadar atau tidak begitulah adanya.

Tentang minimalis, semua ini berawal dari sini. Dalam video tersebut, Raditya Dika menceritakan tentang keputusannya menjual koleksi jam tangannya yang cukup banyak dan menggantinya dengan 1 jam tangan yang spesial. Dia melakukan langkah untuk hidup minimalis. Hal ini adalah aspek paling sederhana dan mudah dipahami dari minimalis : jumlahnya minim.

Ketertarikan terhadap minimalis kemudian berlanjut pada sebuah buku yang cukup menarik. Buku karya Fumio Sasaki yang berjudul “Goodbye, things”. Dalam buku tersebut, Fumio menceritakan pengalamannya berpisah dengan barang, lengkap dengan langkah-langkah yang ia tempuh dan manfaat yang ia rasakan. Fumio menceritakan secara rinci langkah-langkah menuju minimalis dan tantangan dalam setiap langkahnya. Dia menjelaskan bahwa semuanya adalah proses yang harus dijalani sedikit demi sedikit. Kita bahas buku itu di artikel lain ya, stay tuned!

Terakhir, pada dasarnya yang ingin saya sampaikan adalah gaya hidup itu pilihan. Kita ini manusia, makhluk ciptaan Tuhan paling sempurna, punya akal, logika, dan akal sehat. Tidak seharusnya kita hanyut dalam arus tren yang tak terbendung. Kita punya pilihan untuk memilah dan melangkah. Hidup lebih berarti jika kamu berdiri dengan kekuatan, kemauan, dan jati diri sendiri kan. Salam Millenial cerdas!

1 Comment

Leave a Response