Foodie

Sate Klathak Pak Pong Asli Bantul Yogyakarta

Pernah ke Jogja ga? masa sih ga pernah? sumpah ga pernah? Yuk main, cobain sate klathak. Dan jangan lupa nginep di Yats Colony.

Jogja jogja tetap istimewa, istimewa negeri nya istimewa orangnya ^^. Itu sepotong lagu tentang keistimewaan Jogja. Saya lahir dan tumbuh dewasa di Jogja yang katanya kota pelajar. Jadi, rasanya saya cukup mengerti tentang makna dari lagu tersebut. Oiya, sebenernya yang bener Yogyakarta yaa tpi kan kepanjangan kalau ngetik Yogyakarta jadi lets call it Jogja.

Menurut saya Jogja itu syahdu. Kota yang adem-ayem kalau kata masyarakatnya, termasuk saya. Artinya tentram, penuh dengan kenyamanan, dan “dingin”. Dinginnya bukan dalam arti yang sebenarnya yaa karena sesungguhnya Jogja itu panas udaranya kalau siang. Mall semakin bertebaran, kendaraan semakin padat dan pastinya macet. Tapi tenang, jangan takut atau ragu berkunjung ke kota yang satu ini. Tetep adem-ayem dan istimewa.

Oke cukup segitu tentang Jogja, kali ini saya akan coba membahas tentang salah satu kuliner yang cukup terkenal di Jogja. Gudeg? Bukan-bukan. Memang sih Jogja terkenal dengan gudegnya yang manis dengan tambahan ayam kampung nan empuk yang menggoda, tapi kali ini saya akan bahas kuliner yang ga kalah terkenal. Mungkin gudeg akan saya bahas di kesempatan lain, mungkin. Kuliner yang akan saya bahas kali ini adalah Sate Klathak.

Sate klathak adalah sate, ya iyalah. Tau ga kata klathak adalah sebuah kata yang menggambarkan bunyi. Bunyi ini dihasilkan saat memanggang sate klathak. Bunyi khas tersebut yang membuat sate ini dinamakan sate klathak. Bunyi tersebut sesungguhnya dihasilkan dari suara ruji sepeda yang dibakar. Iya iya, saya ga salah nulis kok. Memang yang membuat sate klathak ini menjadi unik karena tusuk nya terbuat dari ruji sepeda, yang masih bersih tentunya. Secara garis besar, sate klathak dicirikan dengan tusuknya yang terbuat dari ruji sepeda, potongannya besar-besar sehingga satu porsi hanya dua tusuk, dan pelengkapnya adalah kuah santan yang gurih. Tergoda dong?

Kalau kalian mau coba sate klathak kalian bisa dateng ke daerah Bantul, arah selatan dan pusat kota Jogja. Di sana kalian akan menemukan banyak pilihan jika ingin mencicipi kuliner yang satu ini. Salah satu yang terkenal adalah Sate Klathak Pak Pong yang bertempat di Jl. Sultan Agung No.18, Jejeran II, Wonokromo, Pleret, Bantul, DIY. Coba deh kalian cari di Google, ketik “sate klathak jogja” pasti nemu Sate Klathak Pak Pong.

Singkat cerita, akhir tahun kemaren, tepatnya di bulan Desember, saya dan keluarga mencoba mencicipi kuliner yang satu ini. Ya walaupun tinggal lama di Jogja, saya baru kali ini berkesempatan mencoba kuliner ini. Letaknya cukup jauh dari rumah saya. Waktu tempuhnya dari rumah saya di daerah Godean sekitar 45 menit, kalau dari pusat kota Jogja mungkin 30 menit. Sampailah kami di sana, daaaaan, rame banget parah. Bingung cari meja harus rebutan atau tunggu-tungguan. Tapi alhamdulillah akhirnya nemu juga meja yang kosong dengan cara “kotor” wkwkwk. Nungguin di samping meja tersebut saat pemilik meja tersebut sudah selesai makan namun masih santai-santai.

Menu yang menjadi pilihan saya adalah sate klathak, tentu ini harus dipesen dong, masak ke Sate Klathak Pak Pong ga beli satenya. Selain itu, menu pelengkap lain yang saya pesan adalah gulai babat, dan tengkleng. Menu-menu tersebut ditawarkan dengan harga 25 ribu hingga 35 ribu, murah kan. Cukup worth dengan porsi yang ditawarkan. Langsung aja yuuk kita review Sate Klathak Pak Pong.

Citarasa

Sate klathak menawarkan citarasa yang khas. Berbeda dengan makanan khas Jogja pada umumnya yang terkenal dengan rasa manis, sata klathak menawarkan sentuhan yang lebih gurih. Rasa ini dipadukan dengan kuah bersantan menjadi sebuah sajian yang sayang untuk dilewatkan. Dan yang paling penting dan jangan lupa adalah pakai sambal. Sambal membuat rasanya tambah nendang.

Namun demikian, setelah mencoba semua menu yang saya pesan, pilihan saya tentang rasa justru jatuh pada tengkleng nya. Loh kok aneh? Ya memang selera orang beda-beda. Oiya yang belum tau tengkleng, tengkleng adalah masakan dari tulang-tulang daging kambing yang masih tersisa sedikit dagingnya. Makan tengkleng harus menggunakan tangan karena susah kalau pakai sendok-garpu. Overall untuk rasa bisa saya kategorikan oke-oke saja, tidak terlalu istimewa dibandingnya dengan aspek yang akan saya bahas selanjutnya.

Pelayanan

Entah ini memang karena ramai dan tidak ada solusi lain atau apapun itu, tapi yang pasti kalau kalian berkesempatan mencoba kuliner ini coba alokasikan waktu 3-4 jam. Iya bener, 3 jam, udah saya kasih tahu yaa jadi jangan kaget kalau ke sana. Waktu tunggu dari pesan hingga makanan datang ini yang membuat saya berpkir kalau rasa yang disajikan dapat dikategorikan sebagai biasa aja. Namun demikian, 3 jam ini cukup terbayar dengan pelayanan yang ramah khas orang Jogja dan aspek berikutnya yang akan saya bahas. Oiya, kalau mulut kalian ga bisa nganggur saat nunggu 3 jam, ada otak-otak yang cukup enak yang bisa kalian pesen. Otak-otak ini bukan menjadi bagian dari Sate Klathak Pak Pong jadi bayarnya terpisah.

Tempat & Suasana

Incredible. Tempat yang disedikan sangat luas dan nyaman, mungkin memang disediakan untuk menunggu dalam waktu yang cukup lama. Ada bilik-bilik dengan tipe lesehan ada juga yang standar dengan kursi-kursi. Didukung letaknya yang ada di pinggir persawahan membuat udara di tempat ini sangat nyaman. PW lah buat bobo wkwkwk. Tak heran kalau ke sini kalian akan menjumpai orang-orang yang tertidur pulas menunggu makanan yang tak kunjung datang. Satu lagi yang menurut saya penting terkait tempat adalah musholanya. Musholanya dapat dikategorikan luas dan bersih untuk ukuran sebuah tempat makan. Nyaman pokoknya kalau shalat di sini. Mushola yang terbuka dan terletak di samping persawahan.

Harga

Jogja selalu istimewa soal harga. Yup, kalau dari segi harga saya bisa bilang sangat terjangkau. Jogja memang terkenal dengan makanannya yang murah-murah, tak terkecuali yang satu ini. Dengan harga 25 ribu hingga 35 ribu kalian akan dapat citarasa yang khas dan tempat yang nyaman.

Instagramable

Untuk aspek yang satu ini, jujur saya katakan kalau it’s not born for that purpose. 

Kebersihan

Kebersihan tempat ini dapat dikategorikan cukup bersih dan terjaga. Kebersihan adalah sebagaian dari iman, dan yaa tempat ini membuat kita nyaman untuk makan, menunggu, dan beribadah.

Review overview

Citarasa6.5
Pelayanan5
Tempat & Suasana9.5
Harga9.5
Instagramable4.5
Kebersihan7.5

Summary

7.1Nama besar tidak selalu sejajar dengan rasanya. Penantian 3-4 jam rasanya kurang terbayar dengan lunas. Tapi tetep sih, Jogja istimewa!

Tags : foodreview

Leave a Response